Siang padang nggenthang yang panasnya membakar berubah manyun, matahari terkatup dan awan tertelengkup memeluk lutut. Sekelebat cahaya menyambar. "Lep-lep, jlegeeerrrrrrr" begitu bahasa alam menyampaikan pesannya (terjemahan bahasa manusianya=hei..manusia, hujan-hujan, break dulu korupsinya dunk).
"Lep-lep Jleggeerr, lagi"
Nyaris semua mahkluk di bawah fly over langsung meringkuk dalam gigil. Bersicepat berebut berteduh sambil tak lupa mulutnya berkomat-kamit menyodorkan gula-gula, doa dan beberapa potong mantra. Beberapa lainnya memilih pura-pura maklum dan coba untuk mengerti, bahwa sekarang waktu bagi sang 'jagoan' pamer kuasa. Aku- kebetulan masih manusia- tak kalah ngerinya, dalam bayangan otakku yang paling jorok, hujan dan petir seperti kutuk maha kutuk. Kutuk alam yang sebenarnya bisa dimaknai apa saja.
Jaman si manusia gua di Sangiran, hujan dan petir mungkin dimaknai kemurkaan dewa yang meminta jatah 'reman'nya. Si Pitecantropus erektus itu mungkin sangat ketakutan dan langsung menyediakan persembahannya tanpa reserve. Mungkin hewan buruannya, mungkin sebelah jari kakinya dan bukan mustahil persembahannya adalah darah dagingnya. Sesekali memang ajaib, hujan reda. Hei... bahkan ketika dewanya si manusia gua menyediakan dirinya untuk disuap.
Apa makna hujan di jaman kontemporer ini? Dulu hujan adalah butiran air, sekarangpun sepertinya masih. Gajahmada dulu menganggap hujan adalah kemenangan Majapahit, karena dengan hujanlah kapal-kapal perangnya bisa merapat di Trowulan. Mengapa sekarang hujan selalu menjadi mimpi buruk? Apa yang salah Mbah? "Lep-lep Jleggeerr, lagi" jawabnya. Anjriiiit, sedang meminta persembahankah dia? Atau sedang pamer lagi? Atau karena dia tersinggung dan minta disuap oleh manusia?
Aku jadi ingat karibku, dia nyaris menjadi jagoan dalam segala hal. Alkohol ? Oke !! Jajan? Oke. Berjudi ? Wakakak.. (ilmu ini malah di dapat ketika dia sering diam-diam ngabur dari pesantren). Pendeknya ilmu MoLimonya telah katham sekatham dan sefasih dia menafsir kitab.
Selain hal yang bejad-bejad itu, dia punya nilai plus yang luar biasa sebagai modalnya bermasyarakat. Enam tahun SMP-SMAnya habis dipesantren ditambah lima tahun di IAIN membuat memiliki keahlian teknis beragamanya paling jagoan. Membaca, menafsir dan menghapal Al Quran baginya telah seperti darah dan nafas yang menyatu dalam kehidupannya. Keahlian teknis ya? Ya, karena tiap Jum'at siang dia selalu fasih memamerkan keahliannya itu di mesjid depan kompleksnya.
Untuk sebuah mesjid kecil sekali tampil honornya tergolong lumayan, Rp 250 ribu-Rp 300 ribu. Malamnya? Ya hidup berlanjut. Wakakak... kalau begini, siapa membodohi siapa? Tuhan dikemas mejadi nir-wujud sekaligus wujud yang konkrit. Dia bisa menjadi apa saja. Kadang menjadi pisau untuk memotong kue ulang tahun atau alat pembuka tutup botol bir, atau sesekali dijual belikan eceran atau borongan di kaki lima. Ya, bagi temaku tuhan mirip rentenir, hutang satu bayar dua. Dosa lalu tobat. Dan di jamin kelak kapling sorganya tak akan di balik namakan olehNya.
Itu kisah temanku, orang kecil sama kecilnya dengan ku. Tetapi, pagi tadi ketika kubuka koran pagi. Sebuah headline merampok perhatianku. "Amien Rais mengaku menerima dana dari mantan menteri DKP Rohmin Dahuri untuk kampanye PAN dalam Pilpres 2004"
Walah-walah, padahal si Rohmin ini adalah tersangka dalam kasus korupsi dana non budgeter di DKP. Hebat..hebat.. padahal siapa yang tak kenal Amien Rais, bapak 'reformasi', ketua PAN, bekas calon presiden dan bekas boss Muhamadiyah yang sohor itu. Memang saat ini hanya Amien yang ngaku, sementara seperti pengakuan Rokhim di Tipikor nama-nama bekenpun ikut icip-icip duit 'haram jadah itu'.
Gus Dur, Megawati, dan nama-nama lain yang ditunjuk Rokhim memang langsung mengelak dan berargumentasi dari A-Z untuk cuci tangan. Mereka-mereka itu dengan kelihaian serta kepakaran dalam bersilat lidah memilih menjadi munafik besar. Kurang apa pengetahuan mereka tentang tuhan, tentang agama, tentang bernegara, tentang taik kucing, etc..etc... Tuhan, dosa, pahala, amal, ibadah bagi mereja menjadi sangat complicated.
Untuk ini setidaknya aku masih berbangga pada karibku. Dia baru menjadi munafik kecil yang baru belajar berbohong. Kadang bohongnya bolong? Ya, maaf namanya juga baru belajar.