Tuesday, July 24, 2007

Membunuhku?

Kenapa kau ingin membunuhku? Apa salahku, bukankah semua permintaanmu telah aku penuhi. Kau minta upeti, aku memberi. Kau minta cinta, bukankah sepenuh hati telah aku beri, bahkan tanpa kau tahu seringkali aku bawakan kau bunga bersama doa yang terbungkus harap.
Lalu kenapa kau masih berniat membunuhku? Atau karena aku telah menyinggungmu?
Seperti kau tahu, akupun milikmu. Sejak kata "memiliki" kau monopoli, semua sah menjadi milikmu. Seribu tafsir kau buat, sejuta pemahaman kau rumuskan dan semuanya mesti rebah di kakimu. Cinta menjadi ketotalan dan ketololan. Benarkah itu maumu? Atau mungkin aku yang salah menafsir? Haruskah kau tetap membunuhku?

Bermainlah dengan warna sayangku. Nikmati pijarnya dan lupakan penghambaan itu. Ya, lupakan bahasa-bahasa baku yang hanya berisi pujian atau ancaman itu. Duduklah disini, di sisiku dan nikmati tumbuhnya. Perhatikan detailnya, angin yang meniup, aroma melati dan cericit burung. Perhatikanlah, dimana peranmu, jangan-jangan selama ini semua hanya tentang pengakuan. Wah-wah, tuh taringmu keluar lagi kan?

Aku memanggilmu, betul. Aku menciummu, itu juga betul dan ketika seringkali aku menyetubuhimu, itu juga betul. Memanggilmu, menciummu, menyetubuhimu serta menyembahmu dengan caraku, satu-satunya cara yang kutahu. Ya, justru untuk menghindarkan pemberhalaanmu. Apakah dengan itu kau berhak membunuhku? Cintaku memang telah membunuhmu. Panggilanku, walau lirih, pasti menggelikanmu. Membuatmu menggelinjang, tersenyum dan ketika aku ludahi mukamu kau mendendam dan diam-diam merencanakan pembunuhanku.
Ah, kupikir kau terlalu merepotkan diri. Jujur ya, Akulah yang telah membunuhmu. Ya, sejak kau menjadi candu.
(di sebuah TV swata sebuah iklan pembersih lantai melintas. So Klin lantai, So Klin lantai. Tuhannya sudah mati nggak takut lagi)

Tuesday, July 3, 2007

Mimpi-mimpi

Ini cerita tentang diriku sekaran, banyak obsesi yang ingin kucapai. Salah satunya adalah aku ingin seperti engkau. Pernah sekali saat seorang teman bertanya padaku tentang perasaanku padamu, aku hanya menjawab "Hanum (7/1/2007 12:33:28 PM): Aku suka isi otaknya, cinta sama kepedulian sosialnya"

Lain waktu aku memikirkan kedua orang tuaku. Ingin kuwujudkan mimpi-mimpi mereka, membahagiakan mereka dengan membuat diriku bahagia, walau semu. Lain waktu aku berfikir tentang kuliahku, aku sudah jenuh dengan kuliah walau baru terbilang 2 semester dan aku gak menemukan yang kucari disana selain hanya selembar ijazah untuk membuat pangkatku tidak cepat mati di PNS. Belum lagi kerjaanku yang membuat aku eneg, kadang terpikir untuk keluar dari PNS itu, tapi aku belum siap dengan konsekwensinya, aku terlalu pengecut untuk menghadapi hidupku (tanpa penghasilan tetap) dan memperjuangkan keinginanku, jadi kuputuskan untuk bertahan disana dengan segala kekacauannya (yang pasti aku sudah mengacaukan masyarakat yang sudah menggajiku)

Lalu aku kembali teringat akan engkau, yang jauh disana yang akan terikat pernikahan dengan seorang wanita yang luar biasa (menurutku). Sosoknya tidak hanya menginspirasikanmu saja. Dengan ceritamu, aku terinspirasi untuk dapat berbagi untuk sesamaku. Darinya aku belajar untuk tidak egois dengan apa yang aku punya. Kau tahu? Sekarang aku sedikit demi sedikit mengumpulkan uang yang akan kugunakan untuk mereka yang membutuhkan. Gak tahu bagaimana caranya. Paling gak, kalau aku buntu banget, aku bisa kirim kepadamu untuk membantu pembuatan "TK" itu. Aku yakin ditangan orang seperti kalian tak ada yang tidak bermanfaat.

Sekarang pikiranku banyak terkuras dengan keinginan untuk mengisi otakku yang kosong. Serta terus membaca jejak-jejak kehadiran-Nya. Sambil terus membayangkan engkau berada disisiku ikut menapaki jejak itu besama-sama.

Ah...udah ah...
Kau tahu tidak? Alasan itulah kenapa aku ingin menunggumu. Walau aku tahu itu sangat tidak pasti atau bahkan mustahil. Aku tidak ingin membandingkan diriku dan "wanita tangguh" itu. karena takdir sedang tidak berpihak padaku saat itu, kau berjumpa dengannya sebelum berjumpa denganku. Dan untunglah kau berjumpa dengannya. Hehehe...
Aku suka dengan ide "TK" itu. Dan aku anggap takdir sangat baik telah mempertemukan kalian. dan sangat tidak layak untuk digantikan dengan bila takdir mempertemukan aku dan kau duluan.

Ehmmmm....bagaimana dengan kau ya?

aku tunggu persetujuanmu...

Aku tak tahu maksud "mu" dari judul blogmu ini. Tapi biarlah aku sedikit Ge eR mengganggap bahwa blog ini memang disediakan agar aku dapat ngobrol denganmu. Bila kau kurang berkenan, kau dapat mendelete tulisan ini tanpa perlu segan. Dan aku janji tidak akan menanyakan alasan apapun kenapa kau delete tulisan ini.
Sebelum banyak obrolanku denganmu, aku tunggu persetujuanmu.