tuantuhanhantu
tuanhantutuhan
tuhantuanhantu
tuhanhantutuan
hantutuantuhan
hantutuhantuan
Thursday, April 26, 2007
Wednesday, April 25, 2007
7.03 PM, 25 April 2007
mencari tuhan..
di....
google ; Results 1 - 10 of about 1,380,000 Indonesian pages for tuhan. (0.02 seconds)
yahoo ; 1 - 10 dari sekitar 1100000 untuk tuhan - 0.20 dtk.
msn ; tuhan Page 1 of 334,875 results
di....
sini ; tok..tok..hello anybody home?
dari dalam sebuah suara menyahut, "lagi pergi mas, besok saja datang lagi.."
di....
google ; Results 1 - 10 of about 1,380,000 Indonesian pages for tuhan. (0.02 seconds)
yahoo ; 1 - 10 dari sekitar 1100000 untuk tuhan - 0.20 dtk.
msn ; tuhan Page 1 of 334,875 results
di....
sini ; tok..tok..hello anybody home?
dari dalam sebuah suara menyahut, "lagi pergi mas, besok saja datang lagi.."
Tuesday, April 24, 2007
tuhanmu
Seorang badui arab, mampir di kuil Dzu al Khalashahz meminta restu kepada dewa.Ia, memutuskan hendak menuntut balas terhadap pembunuh ayahnya. Dilepaskanya anak panahnya, mungkin sedang sial semua anak panahnya mengenai kata "terlarang" tiga kali berturut-turut. Sambil melempar panahya yang telah patah ke wajah "dewa"nya, ia mengumpat, "Terkutuklah engkau! Jika ayahmu yang terbunuh kamu pasti tidak melarangku untuk membalas dendam"
Tuhan bagi si badui dalam cerita itu terasa begitu akrab, intim dan bersahabat. Seperti sepasang pengantin, sesekali cemberut, manyun tetapi selebihnya hanyalah pengertian yang mendalam. Ya, mereka begitu akrab dengan tuhannya karena tuhan adalah keseharian mereka.
Bagaimana dengan tuhan kita? Duuuh..tuhan kita telah lama dimonopoli tafsirnya oleh agama. Tuhan nenek moyang kita adalah pohon-pohon dan bebatuan. Berhubung pepohonan banyak ditebang untuk bahan baku pabrik kertas dan bebatuan dibuat candi atau batu akik terpaksa mengimpor tuhan dari India. Tuhannya brahmana dan para kesatria. Cukupkah? Belum. Karena akhirnya kita tahu, selain tuhan-tuhan itu lebih senang berkelahi satu sama lain, ternyata dia lebih asyik berjoged sambil mendesah Kutch Hota Hai dari pada membela umatnya yang sudra.
So, akhirnya seperti kita tahu, kita mesti impor lagi tuhan baru dari gurun arab di pertengahan milenium ini. Wuih... ternyata tuhan ini pun masih suka berantem dan main larang ini-itu.
Udah ah capek, tuhan-tuhan itu bawaannya ribut mulu. Btw omong-omong masih adakah tuhan produk terbaru?
Kubuka dompetku, Anjriiiiiiitttttttt tak kulihat tuhanmu disana.
Tuhan bagi si badui dalam cerita itu terasa begitu akrab, intim dan bersahabat. Seperti sepasang pengantin, sesekali cemberut, manyun tetapi selebihnya hanyalah pengertian yang mendalam. Ya, mereka begitu akrab dengan tuhannya karena tuhan adalah keseharian mereka.
Bagaimana dengan tuhan kita? Duuuh..tuhan kita telah lama dimonopoli tafsirnya oleh agama. Tuhan nenek moyang kita adalah pohon-pohon dan bebatuan. Berhubung pepohonan banyak ditebang untuk bahan baku pabrik kertas dan bebatuan dibuat candi atau batu akik terpaksa mengimpor tuhan dari India. Tuhannya brahmana dan para kesatria. Cukupkah? Belum. Karena akhirnya kita tahu, selain tuhan-tuhan itu lebih senang berkelahi satu sama lain, ternyata dia lebih asyik berjoged sambil mendesah Kutch Hota Hai dari pada membela umatnya yang sudra.
So, akhirnya seperti kita tahu, kita mesti impor lagi tuhan baru dari gurun arab di pertengahan milenium ini. Wuih... ternyata tuhan ini pun masih suka berantem dan main larang ini-itu.
Udah ah capek, tuhan-tuhan itu bawaannya ribut mulu. Btw omong-omong masih adakah tuhan produk terbaru?
Kubuka dompetku, Anjriiiiiiitttttttt tak kulihat tuhanmu disana.
Mendahuli
beragama disini ibarat menunggangi metromini
sumpek, ngeri dan harus bertebal nyali
copet, garong wajahnya mirip nabi
belum lagi jalanan macet setiap hari
tak bergerak apalagi berlari
semua tegang bersiap mati
bergesek, berhimpit dan panas percikan api
bukannya sesama tuhan dilarang saling mendahului?
sumpek, ngeri dan harus bertebal nyali
copet, garong wajahnya mirip nabi
belum lagi jalanan macet setiap hari
tak bergerak apalagi berlari
semua tegang bersiap mati
bergesek, berhimpit dan panas percikan api
bukannya sesama tuhan dilarang saling mendahului?
senter
Sekian lama hidup tanpa cahaya dan larut dalam kegelapan pekat. Hari ini, entah malaikat mana yang berbisik, tiba-tiba aku ingin sekali bersujud dan berdoa padaMu.
"Tuhan berikan cahayamu dan tuntunlah jiwa yang lemah ini menuju jalanmu. Terangi kegelapanku dan tunjukankan padaku haq adalah haq dan bathil adalah bathil. Ya, Tuhan aku lelah dan berikan sinarmu..."
Sebuah suara terdengar menukas, "Aku Tuhan, bukan senter, Goblok!" ujarnya ketus sambil berlalu.
Duhh..
"Tuhan berikan cahayamu dan tuntunlah jiwa yang lemah ini menuju jalanmu. Terangi kegelapanku dan tunjukankan padaku haq adalah haq dan bathil adalah bathil. Ya, Tuhan aku lelah dan berikan sinarmu..."
Sebuah suara terdengar menukas, "Aku Tuhan, bukan senter, Goblok!" ujarnya ketus sambil berlalu.
Duhh..
mencari tuhan
Kau mencari Ku?
Kenapa nggak sms dulu bodoh!!!
(sambil membetulkan celanaNya yang melorot sampai ke lutut)
Kenapa nggak sms dulu bodoh!!!
(sambil membetulkan celanaNya yang melorot sampai ke lutut)
Wednesday, April 18, 2007
Jejak
"Aku adalah orang yang telah menjejalahi kegelapan dan mendaki puncak yang curam, Ketika aku mengangkat sorban dari wajahku, maka kalian akan tahu siapa sebenarnya aku."
Begitu al-Hajjaj ibn Yusuf al-Tsaqafi-tangan kanan Muawiyah- mengawali khutbahnya di masjid agung Kufah dengan mengutip sebuah bait dari seorang penyair kuno. Kemudian ia melanjutkan dengan suara lantang mengingatkan, "Wahai orang-orang Kufah!Aku benar-benar melihat kepala yang sudah siap dipenggal, dan sungguh! Aku adalah orang yang akan melakukannya. Aku juga bisa melihat darah mengalir antara sorban dan janggut.."
Ya, bagi wakil Umayyah yang keras ini, tak ada yang tak bisa ditaklukan atau dibunuh. Bahkan kepala Anas ibn Malik, seorang ahli hadis dan sahabat nabi yang terkemuka, di ikat dengan kalung yang bertuliskan nama al-Hajjaj.
Ketika kemudian menjadi gubernur Irak, diriwayatkan 120 000 orang telah dibunuh untuk menstabilkan kawasan itu bagi dinasti Umayah yang masih goyah. Dengan jejaknya apakah kemudian kita berhak mencapnya sebagai sang penumpah? Bukankah darah yang ditumpahkan al-Hajjaj, bukan yang pertama?
Sebelumnya bahkan, tiga dari empat Khulaf-a al Rasyidun mangkat karena terbunuh. Umar oleh pisau beracun budak Kristen Persia ketika sedang sholat jamaah, Utsman oleh Muhammad anak Abu Bakr, dan Ali oleh pedang beracun yang diayunkan Abd al Rahman ibn Muljam orang Khawarij pada 24 Januari 661 ketika sedang menuju masjid Kufah. Apakah dengan begitu kita lalu berhak mengatakan bahwa agama ini sepanjang sejarahnya hanya diwarnai darah? Hingga Paus Benedictus XVI berhak mengutip sebuah kitab dari akhir abad empat belas dalam pidatonya di Regensburg, Jerman 2005.
"Tunjukan padaku apa yang baru yang dibawakan Muhammad, dan yang kita dapat hanya hal-hal keji dan tak manusiawi." Mestikah itu, justru ketika Paus sebelumnya meresmikan Nostra Aetate pada 28 Oktober 1965? Atau Paus Benedictus XVI memang disemangati oleh Paus Urban II yang direngeki Alexius Comnesus karena pesisirnya di Marmora diserbu Bani Saljuk?
Ya, semua masih ingat 26 November 1095 di Clermont tenggara Perancis. Genderang ditabuh.Deus Vult !! Begitu orang-orang menyambut pidatonya sambil mengepalkan tangannya keudara penuh dendam. Dua tahun berikutnya, musim semi di Konstatinopel 150 000 orang terkumpul menyematkan salib menjadi lencana baju dan berangkat ketimur untuk berperang.
Siapa yang memulainya? Umar dan Heracliuskah yang memulainya di lembah Yarmuk 20 Agustus 636 yang panas? Atau jejak ini tak lebih hanya warisan Troya dan Persia ratusan tahun sebelumnya?
Di Yarmuk kala itu, nyaris semua doa telah dipanjatkan kedua belah pihak. Tuhankah yang menyeret mereka bertukar maut? Atau dia hanya sibuk memunguti doa-doa dari kepala-kepala yang terpenggal? Apakah betul dia memang punya urusan dengan segala pertumpahan darah itu? Betul !! Bukan urusan tuhan, pedang hanyalah urusan saudagar dan para raja ketika tawar-menawar menjadi buntu.
Tetapi bukankah dengan Deus Vult mu, pedang menjadi satu-satunya bahasa? Ya, semua mendapatkan jawabannya dalam pedang. Para romantis dan pejuangmu yang gelisah, termasuk orang-orang yang saleh menjadikan pedang adalah sandaran keimanan mereka, sementara bagi pendosa, pedang akan menunjukan jalannya pada penebusan yang agung. Ya, Yerusalem menjadi magnet bagi perang untuk keadilan. Persetubuhan agama dengan penebusan dosa dan ketakutan akan sorga dan neraka. Terserah dimaknai apa, tetapi apakah memang itu kemauan tuhanmu dan tuhanku? Yang jelas, sejak itu pedang bengkok selalu berdenting beradu dengan pedang lurus dari barat bertaruh maut.
Penindas dan tertindas hanya berganti waktu. Pedang bengkoklah yang dulu mengepung orang-orang Franka, bahkan jauh sampai ke Kordova. Menebarkan ngeri dan ancaman. Dengan jaman yang menyingsing pedang bengkok kemudian terpatahkan. Menarik diri dan mengutuki nasibnya. Ya, tertindas dan penindas hanya berganti waktu.
Benarkan kita masih menuhankan God, Allah Swt, atau apapun itu namanya? Mengapa masih ada orang seperti Mohammed Bouyeri yang penuh dendam. Apa yang mebuatnya mata gelap?
(Aku kirim rangkaian bunga itu untukmu. Di depan Abu Gharib dan Guantanamo kuketuk pintumu. Sekuntum kamboja, melati, dan sekeranjang kecil bunga sepatu terbungkus plastik transparan. Tak lupa kuselipkan sepotong doa yang kuambil begitu saja dari kantong celana. Awalnya aku sempat bimbang sebelum kukirim. Apakah kau suka wanginya? Apakah kau suka warnanya? Apakah kau suka doanya? Pertanyaan bertumpuk-tumpuk dikepalaku dan kupikir kau tak peduli apapun, jadi mengapa aku merisaukan sekadar warna, bau atau bentuknya yang konyol itu.)
Begitu al-Hajjaj ibn Yusuf al-Tsaqafi-tangan kanan Muawiyah- mengawali khutbahnya di masjid agung Kufah dengan mengutip sebuah bait dari seorang penyair kuno. Kemudian ia melanjutkan dengan suara lantang mengingatkan, "Wahai orang-orang Kufah!Aku benar-benar melihat kepala yang sudah siap dipenggal, dan sungguh! Aku adalah orang yang akan melakukannya. Aku juga bisa melihat darah mengalir antara sorban dan janggut.."
Ya, bagi wakil Umayyah yang keras ini, tak ada yang tak bisa ditaklukan atau dibunuh. Bahkan kepala Anas ibn Malik, seorang ahli hadis dan sahabat nabi yang terkemuka, di ikat dengan kalung yang bertuliskan nama al-Hajjaj.
Ketika kemudian menjadi gubernur Irak, diriwayatkan 120 000 orang telah dibunuh untuk menstabilkan kawasan itu bagi dinasti Umayah yang masih goyah. Dengan jejaknya apakah kemudian kita berhak mencapnya sebagai sang penumpah? Bukankah darah yang ditumpahkan al-Hajjaj, bukan yang pertama?
Sebelumnya bahkan, tiga dari empat Khulaf-a al Rasyidun mangkat karena terbunuh. Umar oleh pisau beracun budak Kristen Persia ketika sedang sholat jamaah, Utsman oleh Muhammad anak Abu Bakr, dan Ali oleh pedang beracun yang diayunkan Abd al Rahman ibn Muljam orang Khawarij pada 24 Januari 661 ketika sedang menuju masjid Kufah. Apakah dengan begitu kita lalu berhak mengatakan bahwa agama ini sepanjang sejarahnya hanya diwarnai darah? Hingga Paus Benedictus XVI berhak mengutip sebuah kitab dari akhir abad empat belas dalam pidatonya di Regensburg, Jerman 2005.
"Tunjukan padaku apa yang baru yang dibawakan Muhammad, dan yang kita dapat hanya hal-hal keji dan tak manusiawi." Mestikah itu, justru ketika Paus sebelumnya meresmikan Nostra Aetate pada 28 Oktober 1965? Atau Paus Benedictus XVI memang disemangati oleh Paus Urban II yang direngeki Alexius Comnesus karena pesisirnya di Marmora diserbu Bani Saljuk?
Ya, semua masih ingat 26 November 1095 di Clermont tenggara Perancis. Genderang ditabuh.Deus Vult !! Begitu orang-orang menyambut pidatonya sambil mengepalkan tangannya keudara penuh dendam. Dua tahun berikutnya, musim semi di Konstatinopel 150 000 orang terkumpul menyematkan salib menjadi lencana baju dan berangkat ketimur untuk berperang.
Siapa yang memulainya? Umar dan Heracliuskah yang memulainya di lembah Yarmuk 20 Agustus 636 yang panas? Atau jejak ini tak lebih hanya warisan Troya dan Persia ratusan tahun sebelumnya?
Di Yarmuk kala itu, nyaris semua doa telah dipanjatkan kedua belah pihak. Tuhankah yang menyeret mereka bertukar maut? Atau dia hanya sibuk memunguti doa-doa dari kepala-kepala yang terpenggal? Apakah betul dia memang punya urusan dengan segala pertumpahan darah itu? Betul !! Bukan urusan tuhan, pedang hanyalah urusan saudagar dan para raja ketika tawar-menawar menjadi buntu.
Tetapi bukankah dengan Deus Vult mu, pedang menjadi satu-satunya bahasa? Ya, semua mendapatkan jawabannya dalam pedang. Para romantis dan pejuangmu yang gelisah, termasuk orang-orang yang saleh menjadikan pedang adalah sandaran keimanan mereka, sementara bagi pendosa, pedang akan menunjukan jalannya pada penebusan yang agung. Ya, Yerusalem menjadi magnet bagi perang untuk keadilan. Persetubuhan agama dengan penebusan dosa dan ketakutan akan sorga dan neraka. Terserah dimaknai apa, tetapi apakah memang itu kemauan tuhanmu dan tuhanku? Yang jelas, sejak itu pedang bengkok selalu berdenting beradu dengan pedang lurus dari barat bertaruh maut.
Penindas dan tertindas hanya berganti waktu. Pedang bengkoklah yang dulu mengepung orang-orang Franka, bahkan jauh sampai ke Kordova. Menebarkan ngeri dan ancaman. Dengan jaman yang menyingsing pedang bengkok kemudian terpatahkan. Menarik diri dan mengutuki nasibnya. Ya, tertindas dan penindas hanya berganti waktu.
Benarkan kita masih menuhankan God, Allah Swt, atau apapun itu namanya? Mengapa masih ada orang seperti Mohammed Bouyeri yang penuh dendam. Apa yang mebuatnya mata gelap?
(Aku kirim rangkaian bunga itu untukmu. Di depan Abu Gharib dan Guantanamo kuketuk pintumu. Sekuntum kamboja, melati, dan sekeranjang kecil bunga sepatu terbungkus plastik transparan. Tak lupa kuselipkan sepotong doa yang kuambil begitu saja dari kantong celana. Awalnya aku sempat bimbang sebelum kukirim. Apakah kau suka wanginya? Apakah kau suka warnanya? Apakah kau suka doanya? Pertanyaan bertumpuk-tumpuk dikepalaku dan kupikir kau tak peduli apapun, jadi mengapa aku merisaukan sekadar warna, bau atau bentuknya yang konyol itu.)
Monday, April 16, 2007
marah
Aku marah, karena tak berdaya. Aku sedih, karena tak berguna. Aku menangis, lalu berteriak karena tak kuasa. Kau pun tahu. Ketika aku berdiri, aku goyah. Ketika aku duduk, aku tersandar. Ketika aku tertidur, aku lunglai. Aku menjawab takdirku dengan menjemput marah dan menyematkannya menjadi mahkota.
Selalu ada api menjalari dadaku. Pelan dan pasti, hangat berubah menjadi panas yang mendidihkan. Pedih itu, sakit itu, nyeri itu, tak ingin kumengerti lagi rasanya. Aku tak ingin mengigatnya. Seperti Majnun yang terbakar dan mendendangkan nama Laila sepanjang jalannya. Aku ingin membakar kenangannya. Membakarnya menjadi abu yang tak berbekas dan kutiupkan pada badai yang berjanji menjemput.
Aku ingin menjadi Siwa yang merusakan dan lalu membangunkannya kembali untuk manusia-manusia yang bodoh dan tolol itu. Aku tenggelam dalam bara dan ribuan taringku siap kuasah untuk mencabikmu. Membiarkan marahku menjadi penuntun dan pemandu jalanku keluarku. Benar. Ya, benar aku biarkan diriku hanyut dari Siwa menjadi Kala yang rakus.
Kau tahu aku tak berhak apapun. Tak memiliki apapun. Tak berpunya apapun. Aku hanya punya marah, dendam, nyeri dan jutaan darah yang siap menggelegak menghancurkan. Hanya itu. Ya, hanya itu yang kupunya.
Aku simpan bangkai-bangkai peradaban dan kemarahan jaman di kedalamanya. Aku menunggumu dengan mata nyalang. Dengan api, dan pembakarnya sekaligus. Aku ingin hanguskan diriku, hidupku dan entah apalagi yang masih kupunya. Aku lemparkan semua itu pada api yang menyala-nyala. Biar lupa dan tak berbekas.Ya, ingin kulakukan itu padamu.
Aku merunduk di dalam dirimu, menyembah dan menyiapkan dupa untuk persembahan. Atau justru aku dupa itu. Memberi wangi dengan membakar diri.
Aku biarkan diriku mengawang terbang dan menyatu dengan panas matahari. Merasakan indahnya marah yang getir. Getir, karena marah hanyalah jalan keluar yang bisa kumengerti. Sisanya kuserahkan padamu. Kupikir kau memilih membiarkanku menemukan jalan buntu itu. Kau memilih aku lebur menjadi uap dan menikmati tetes-tetesnya yang menjadi hujan. Hujan teramat deras yang juga menjadi Siwa dengan kerusakannya. Kau pikir, tetesku akan menyuburkanmu. Kau salah. Dan aku tak perduli. Sungguh aku tak perduli. Apapun yang kau pikir tentangku.
Aku berhenti berpikir di titik ini. Aku ingin berhenti. Berhenti. Lelah karena marah menguasaiku lagi.
(aku hanya marah dan marah)
Marah pada api dan apa yang diperbuatnya untukku. Siapa yang peduli, siapa yang peduli !!. Tak ada, hanya keberanian yang tolol saja dan mencoba bertahan dari apapun yang belajar mengerti. Aku disini menunggumu, menunggu remah-remah yang tak kumengerti lagi, apa maknanya untuk apa.
tuhan... atau apapun namamu...
Bisakah kau redam gemuruh itu. Bisakah kau alirkan sungaimu menjadi mata air yang indah di hati. Bisakah? Bisakah?
tuhan... atau apapun zatmu..
Selalu ada api menjalari dadaku. Pelan dan pasti, hangat berubah menjadi panas yang mendidihkan. Pedih itu, sakit itu, nyeri itu, tak ingin kumengerti lagi rasanya. Aku tak ingin mengigatnya. Seperti Majnun yang terbakar dan mendendangkan nama Laila sepanjang jalannya. Aku ingin membakar kenangannya. Membakarnya menjadi abu yang tak berbekas dan kutiupkan pada badai yang berjanji menjemput.
Aku ingin menjadi Siwa yang merusakan dan lalu membangunkannya kembali untuk manusia-manusia yang bodoh dan tolol itu. Aku tenggelam dalam bara dan ribuan taringku siap kuasah untuk mencabikmu. Membiarkan marahku menjadi penuntun dan pemandu jalanku keluarku. Benar. Ya, benar aku biarkan diriku hanyut dari Siwa menjadi Kala yang rakus.
Kau tahu aku tak berhak apapun. Tak memiliki apapun. Tak berpunya apapun. Aku hanya punya marah, dendam, nyeri dan jutaan darah yang siap menggelegak menghancurkan. Hanya itu. Ya, hanya itu yang kupunya.
Aku simpan bangkai-bangkai peradaban dan kemarahan jaman di kedalamanya. Aku menunggumu dengan mata nyalang. Dengan api, dan pembakarnya sekaligus. Aku ingin hanguskan diriku, hidupku dan entah apalagi yang masih kupunya. Aku lemparkan semua itu pada api yang menyala-nyala. Biar lupa dan tak berbekas.Ya, ingin kulakukan itu padamu.
Aku merunduk di dalam dirimu, menyembah dan menyiapkan dupa untuk persembahan. Atau justru aku dupa itu. Memberi wangi dengan membakar diri.
Aku biarkan diriku mengawang terbang dan menyatu dengan panas matahari. Merasakan indahnya marah yang getir. Getir, karena marah hanyalah jalan keluar yang bisa kumengerti. Sisanya kuserahkan padamu. Kupikir kau memilih membiarkanku menemukan jalan buntu itu. Kau memilih aku lebur menjadi uap dan menikmati tetes-tetesnya yang menjadi hujan. Hujan teramat deras yang juga menjadi Siwa dengan kerusakannya. Kau pikir, tetesku akan menyuburkanmu. Kau salah. Dan aku tak perduli. Sungguh aku tak perduli. Apapun yang kau pikir tentangku.
Aku berhenti berpikir di titik ini. Aku ingin berhenti. Berhenti. Lelah karena marah menguasaiku lagi.
(aku hanya marah dan marah)
Marah pada api dan apa yang diperbuatnya untukku. Siapa yang peduli, siapa yang peduli !!. Tak ada, hanya keberanian yang tolol saja dan mencoba bertahan dari apapun yang belajar mengerti. Aku disini menunggumu, menunggu remah-remah yang tak kumengerti lagi, apa maknanya untuk apa.
tuhan... atau apapun namamu...
Bisakah kau redam gemuruh itu. Bisakah kau alirkan sungaimu menjadi mata air yang indah di hati. Bisakah? Bisakah?
tuhan... atau apapun zatmu..
Monday, April 9, 2007
Pesan Pendek
Seandainya kau akrab teknologi terkini, rasanya ingin kukirim sebuah pesan pendek padamu. "Hai, aku baik saja. Gimana khabarmu?" Itu mungkin awalan yang cukup sopan untuk menyapamu. Menyapamu dalam keterasinganmu disuatu keentahan.
Seperti biasa, setelah berbasa-basi, aku mungkin langsung kepikiran untuk curhat. Curhat via sms mungkin lebih nyambung, dibanding ribuan kali curhatku dengan sujud dan gumam aneh dalam bahasa yang bahkan bukan bahasa ibuku. Hi.. sorry ya, bukan maksud cengengesan denganmu. Tapi, bukankah gaul juga bagian dari nama indahmu?
Andai kau sedikit saja sadar teknologi. Sesekali aku ingin mengajakmu nonton televisi. Tabung kaca itu sekarang nyaris menggantikan peranmu. Tak percaya ? Lihat saja, bagaimana tabung itu mengatur ini-itu lalu meminta persembahan. Tetapi sudahlah. Tak usah iri, apalagi sirik. Biar saja, mungkin kamu malah bisa belajar dari tabung bodoh itu mendidik umatmu.
Bahkan bila kau berkenan, aku ingin mengajak kau, menikmati tayangan berita atau infotaiment. Berita, setidaknya memberi gambaran apa yang kini sedang terjadi. Bahwa kebanyakan janji-janjimu belasan abad silam sekarang tak lebih menjadi sampah.
Ya, benar sampah. Ayolah jangan egois. Yang terjadi sekarang memang seperti itu toh? Kau memilih mengasingkan diri jauh dari konflik dan terpisah dari keseharian. Kupikir sekarang kau hanya ingin menikmati peranmu sebagai pengadil di Masyar kelak? Benarkah.
Pernah nonton infotaiment dari kursimu? Nggak pernah ya? Tuh kan, bahkan kau nggak tahu kegemaran para manusia-manusia negeri ini. Padahal bisa saja, pesanmu kau tampilkan dalam runing text di tayangan mereka kan? Hal inilah yang aku pikir yang menjadi masalahmu sekarang. Kau selalu bicara dalam bahasa-bahasa yang aneh.
Dalam kondisi sekarang. Mestinya lebih bijak bila kau tampil dengan wajah yang lebih karib dan akrab. Bukan wajah-wajah seram seperti yang digambarkan orang-orang pandai itu. "Apa yang kau inginkan, mintalah." katamu suatu hari. Tidak, aku tidak inginkan apapun darimu, sungguh. Aku hanya ingin melihat kau sesekali turun dari kursimu yang sepi itu. Ayo, rasakan desah kami, rasakan keringat kami atau sesekali rasakan tangis kami.
Aku masih ingat betul ketika kau datangi sahabat kami. Dan meminjam mulut Jibril kau berbisik lembut padanya, "Wahai kau yang berselimut! Bangkit dan berilah peringatan." Ah, masa-masa perkawanan yang indah ya?
Aku juga masih ingat betul. Ketika 300 sahabat itu mengalahkan 1000 lebih pengingkar-pengingkar itu di Badar. Bukankah kau penunjuk jalannya? Dimana kau sekarang? Apakah tabung kaca bodoh itu telah mengalahkanmu atau atau justru "tangan-tangan tak terlihatlah" yang melumatmu.
Argh...Aku juga tetap selalu ingat, ketika dipuncak ketinggiannya, sahabatku tetap memilih tinggal rumah sederhana. Ya, rumah dari tanah liat seperti kebanyakan jaman itu di Yatsrib. Tidak, sekali-kali dia tidak membangun istana. Ia juga sering terlihat menjahit sendiri pakainnya yang robek, dan sangat mudah ditemui oleh para karibnya. Seringkali tangannya mengusap air mata atau mengulurkan kurma dan tinta untuk si papa.
Bandingkan dengan tingakah badut-badut itu sekarang. Badut yang diberi sedikit amanat lalu lupa diri. Mereka bangun tembok istana dan benteng tinggi dari emas atau baja. Lalu membutakan mata dan menulikan telinga dari derita.
Sayang, seandainya kau berteknologi. Ingin rasanya setiap hari kukirim pesan pendek padamu. Apapun yang aku lihat, aku dengar atau aku rasakan akan aku kabarkan dan aku mintakan pendapatmu. Setidaknya aku ingin memberimu progres report perjalananku sebagai khalifah di bumi. Atau kau lebih baik membuka layanan voice mail agar bila kau sibuk kau bisa mendengar pesanku.
Eh, ngomong-ngomong berapa nomor HPmu?
Seperti biasa, setelah berbasa-basi, aku mungkin langsung kepikiran untuk curhat. Curhat via sms mungkin lebih nyambung, dibanding ribuan kali curhatku dengan sujud dan gumam aneh dalam bahasa yang bahkan bukan bahasa ibuku. Hi.. sorry ya, bukan maksud cengengesan denganmu. Tapi, bukankah gaul juga bagian dari nama indahmu?
Andai kau sedikit saja sadar teknologi. Sesekali aku ingin mengajakmu nonton televisi. Tabung kaca itu sekarang nyaris menggantikan peranmu. Tak percaya ? Lihat saja, bagaimana tabung itu mengatur ini-itu lalu meminta persembahan. Tetapi sudahlah. Tak usah iri, apalagi sirik. Biar saja, mungkin kamu malah bisa belajar dari tabung bodoh itu mendidik umatmu.
Bahkan bila kau berkenan, aku ingin mengajak kau, menikmati tayangan berita atau infotaiment. Berita, setidaknya memberi gambaran apa yang kini sedang terjadi. Bahwa kebanyakan janji-janjimu belasan abad silam sekarang tak lebih menjadi sampah.
Ya, benar sampah. Ayolah jangan egois. Yang terjadi sekarang memang seperti itu toh? Kau memilih mengasingkan diri jauh dari konflik dan terpisah dari keseharian. Kupikir sekarang kau hanya ingin menikmati peranmu sebagai pengadil di Masyar kelak? Benarkah.
Pernah nonton infotaiment dari kursimu? Nggak pernah ya? Tuh kan, bahkan kau nggak tahu kegemaran para manusia-manusia negeri ini. Padahal bisa saja, pesanmu kau tampilkan dalam runing text di tayangan mereka kan? Hal inilah yang aku pikir yang menjadi masalahmu sekarang. Kau selalu bicara dalam bahasa-bahasa yang aneh.
Dalam kondisi sekarang. Mestinya lebih bijak bila kau tampil dengan wajah yang lebih karib dan akrab. Bukan wajah-wajah seram seperti yang digambarkan orang-orang pandai itu. "Apa yang kau inginkan, mintalah." katamu suatu hari. Tidak, aku tidak inginkan apapun darimu, sungguh. Aku hanya ingin melihat kau sesekali turun dari kursimu yang sepi itu. Ayo, rasakan desah kami, rasakan keringat kami atau sesekali rasakan tangis kami.
Aku masih ingat betul ketika kau datangi sahabat kami. Dan meminjam mulut Jibril kau berbisik lembut padanya, "Wahai kau yang berselimut! Bangkit dan berilah peringatan." Ah, masa-masa perkawanan yang indah ya?
Aku juga masih ingat betul. Ketika 300 sahabat itu mengalahkan 1000 lebih pengingkar-pengingkar itu di Badar. Bukankah kau penunjuk jalannya? Dimana kau sekarang? Apakah tabung kaca bodoh itu telah mengalahkanmu atau atau justru "tangan-tangan tak terlihatlah" yang melumatmu.
Argh...Aku juga tetap selalu ingat, ketika dipuncak ketinggiannya, sahabatku tetap memilih tinggal rumah sederhana. Ya, rumah dari tanah liat seperti kebanyakan jaman itu di Yatsrib. Tidak, sekali-kali dia tidak membangun istana. Ia juga sering terlihat menjahit sendiri pakainnya yang robek, dan sangat mudah ditemui oleh para karibnya. Seringkali tangannya mengusap air mata atau mengulurkan kurma dan tinta untuk si papa.
Bandingkan dengan tingakah badut-badut itu sekarang. Badut yang diberi sedikit amanat lalu lupa diri. Mereka bangun tembok istana dan benteng tinggi dari emas atau baja. Lalu membutakan mata dan menulikan telinga dari derita.
Sayang, seandainya kau berteknologi. Ingin rasanya setiap hari kukirim pesan pendek padamu. Apapun yang aku lihat, aku dengar atau aku rasakan akan aku kabarkan dan aku mintakan pendapatmu. Setidaknya aku ingin memberimu progres report perjalananku sebagai khalifah di bumi. Atau kau lebih baik membuka layanan voice mail agar bila kau sibuk kau bisa mendengar pesanku.
Eh, ngomong-ngomong berapa nomor HPmu?
Friday, April 6, 2007
Mencarimu
Ta, terakhir aku meyapamu adalah malam berhujan ratusan hari lampau. Menggelitik dan kemudian menyapamu dengan bahasa sederhana yang bisu dan sunyi. Bahasa yang selalu menambah arti pada setiap maknanya. Waktu itu kau hanya kamu tersenyum mencoba memahami. Memahami semua gejolak ketelanjanganku yang dibangkitkan kegelapan adalah penyerahan.
Ta, waktu itu aku mungkin terlambat menyadari, kaulah kebaikanku. Hingga ketika paginya aku bangun. Ku temukan diriku tergeletak ditaman yang indah. Kau masih ada disampingku menyadarkan. Aku menyangka aku telah berada di surga. Surga yang menghibur dan memanjakanku dengan tetabuhannya. Hingga akhirnya kudengar kau menghardikku keras, "Pergilah dan basuhlah wajahmu dengan air pancuran itu."
Aku yang mabuk oleh minuman itu, memang terlalu bodoh untuk mengerti. Ketika kubilang kaulah keluasanku, kau hanya tertawa. Ah, keluasan dimana aku bisa melihat pantulan wajah naifku. Mungkin bagimu aku lebih mirip si tua bodoh dari gunung yang bertanya bagaimana rasanya garam. Aku selalu ingin mencoba menyelam pada kedalamanmu, mereguk habis semua kebaikan bunga yang kau sediakan. Disaat yang sama ketika aku melepaskan baju-baju sempitmu, aku pasangkan baju besi yang kaku ditubuhmu.
Aku selalu menikmati diperbincangan-perbincangan kita dalam pertemuan-pertemuan itu, sungguh aku menikmati setiap patah katamu. "Pertemukan aku denganmu!" selalu teriakku. Biarkan aku terbakar oleh nyalamu lalu lenyaplah.
Ta. Aku menunggumu hari ini. Dari hari pagi, menjelang siang hingga malam lepas tanpa kendali dari gengaman tak kudapati sosokmu di tempat biasa. Di halte itu, tempat kita biasa menunggui senja tenggelam, hanya kudapati seonggok mantel lusuh. Bergambar bulan sabit dikantong depannya. Ah, engkau ada dimana Ta?
"Senja-senja kini serasa mengalirkan darah layaknya" bisikmu ketika itu. "Lihatlah perih dan pedih itu. Mereka berebut menempel pada tiang, pada kisi-kisi seperti lintah yang menghisap darah lalu melemahkan kita."
Ta. Hari itu aku tetap menunggumu. Hingga malam datang dan rakus melumat waktu-waktu yang masih tersisa. Aku bertanya pada semua yang ada. Halte, pengemis buta, bulan, bintang dan dan burung yang melintas. Semuanya membisu.
Ta. Hingga menjelang pagi ada nyeri yang menyeruak ketika kakiku melangkah meninggalkan halte bisu itu. Ada apa ini? Apakah kau memang telah bersekutu dengan nasib untuk meninggalkanku? Atau kau telah lelah dengan perjalanan yang tak berujung ini?
Ta. Aku mencarimu. Di sepanjang jalan lurus itu, di belantara lebat itu, di padang itu bahkan nyaris disemua tempat telah kusibak rimbunnya untuk sekedar bisa menyapamu. Menyapa dengan dua tangan yang tertangkup didada. Dan mengajakmu bicara dengan bahasa kesunyian kita.
Ah, selalu hanya sedikit isyarat yang bisa kutangkap darimu. Kau memang telah pergi. Benarkah? Benarkah segala nyanyi sunyi dan bisu tak berarti? Apakah bagimu sekarang teriakan yang kencang menggedor lebih bisa kau pahami? Atau karena aku yang tak pernah sempat mengembangkan cara-cara biasa dan lebih menikmati bahasa purba yang abadi? Ah... aku tak mengerti kau berada dimana kali ini.
Ta. Aku memahamimu. Aku ingin. Sungguh ingin bisa memahami setiap patah kata bahkan setiap tanda baca yang kau kabarkan padaku. Tetapi bukankah itu hanya milikmu? Milik keabadian yang tak pernah tersentuh duniaku.
Sayang, turunlah. Turunlah dan injakkan kakimu di tanah ini. Nikmati setiap gerak dan tiupkan nafas pada pedang-pedang yang telah tercabut dari sarungnya. Ajarkan aku. Ya, ajarkan aku mengayunkan setiap tebasannya menjadi elusan lembut yang menguatkan. Elusan yang meredakan tangis dan menyuapkan harapan.
Aku ingin memahamimu. Seperti aku memahami jantung yang terus berdetak. Seperti nadi yang terus berdenyut. Seperti nafas yang terus berhembus. Seperti itulah ingin kupahami dirimu.
Singgahlah di gubukku sayang. Akan aku suguhkan secawan keringat dan airmata yang selalu menderas bila mengingatmu. Tetapi apakah kau peduli? Bukankah yang kaupedulikan hanya mantra-mantra bodoh itu?
Ta. Aku mencintaimu. Mencintai dengan keberanian dan ketakutan-ketakutannya sekaligus. Menyimpanmu di dada kiri dan menggenggamnya di kepalan tangan. Menciptakan dirimu menjadi matahari. Ya, matahari yang hangat namun senyap.
Ta, waktu itu aku mungkin terlambat menyadari, kaulah kebaikanku. Hingga ketika paginya aku bangun. Ku temukan diriku tergeletak ditaman yang indah. Kau masih ada disampingku menyadarkan. Aku menyangka aku telah berada di surga. Surga yang menghibur dan memanjakanku dengan tetabuhannya. Hingga akhirnya kudengar kau menghardikku keras, "Pergilah dan basuhlah wajahmu dengan air pancuran itu."
Aku yang mabuk oleh minuman itu, memang terlalu bodoh untuk mengerti. Ketika kubilang kaulah keluasanku, kau hanya tertawa. Ah, keluasan dimana aku bisa melihat pantulan wajah naifku. Mungkin bagimu aku lebih mirip si tua bodoh dari gunung yang bertanya bagaimana rasanya garam. Aku selalu ingin mencoba menyelam pada kedalamanmu, mereguk habis semua kebaikan bunga yang kau sediakan. Disaat yang sama ketika aku melepaskan baju-baju sempitmu, aku pasangkan baju besi yang kaku ditubuhmu.
Aku selalu menikmati diperbincangan-perbincangan kita dalam pertemuan-pertemuan itu, sungguh aku menikmati setiap patah katamu. "Pertemukan aku denganmu!" selalu teriakku. Biarkan aku terbakar oleh nyalamu lalu lenyaplah.
Ta. Aku menunggumu hari ini. Dari hari pagi, menjelang siang hingga malam lepas tanpa kendali dari gengaman tak kudapati sosokmu di tempat biasa. Di halte itu, tempat kita biasa menunggui senja tenggelam, hanya kudapati seonggok mantel lusuh. Bergambar bulan sabit dikantong depannya. Ah, engkau ada dimana Ta?
"Senja-senja kini serasa mengalirkan darah layaknya" bisikmu ketika itu. "Lihatlah perih dan pedih itu. Mereka berebut menempel pada tiang, pada kisi-kisi seperti lintah yang menghisap darah lalu melemahkan kita."
Ta. Hari itu aku tetap menunggumu. Hingga malam datang dan rakus melumat waktu-waktu yang masih tersisa. Aku bertanya pada semua yang ada. Halte, pengemis buta, bulan, bintang dan dan burung yang melintas. Semuanya membisu.
Ta. Hingga menjelang pagi ada nyeri yang menyeruak ketika kakiku melangkah meninggalkan halte bisu itu. Ada apa ini? Apakah kau memang telah bersekutu dengan nasib untuk meninggalkanku? Atau kau telah lelah dengan perjalanan yang tak berujung ini?
Ta. Aku mencarimu. Di sepanjang jalan lurus itu, di belantara lebat itu, di padang itu bahkan nyaris disemua tempat telah kusibak rimbunnya untuk sekedar bisa menyapamu. Menyapa dengan dua tangan yang tertangkup didada. Dan mengajakmu bicara dengan bahasa kesunyian kita.
Ah, selalu hanya sedikit isyarat yang bisa kutangkap darimu. Kau memang telah pergi. Benarkah? Benarkah segala nyanyi sunyi dan bisu tak berarti? Apakah bagimu sekarang teriakan yang kencang menggedor lebih bisa kau pahami? Atau karena aku yang tak pernah sempat mengembangkan cara-cara biasa dan lebih menikmati bahasa purba yang abadi? Ah... aku tak mengerti kau berada dimana kali ini.
Ta. Aku memahamimu. Aku ingin. Sungguh ingin bisa memahami setiap patah kata bahkan setiap tanda baca yang kau kabarkan padaku. Tetapi bukankah itu hanya milikmu? Milik keabadian yang tak pernah tersentuh duniaku.
Sayang, turunlah. Turunlah dan injakkan kakimu di tanah ini. Nikmati setiap gerak dan tiupkan nafas pada pedang-pedang yang telah tercabut dari sarungnya. Ajarkan aku. Ya, ajarkan aku mengayunkan setiap tebasannya menjadi elusan lembut yang menguatkan. Elusan yang meredakan tangis dan menyuapkan harapan.
Aku ingin memahamimu. Seperti aku memahami jantung yang terus berdetak. Seperti nadi yang terus berdenyut. Seperti nafas yang terus berhembus. Seperti itulah ingin kupahami dirimu.
Singgahlah di gubukku sayang. Akan aku suguhkan secawan keringat dan airmata yang selalu menderas bila mengingatmu. Tetapi apakah kau peduli? Bukankah yang kaupedulikan hanya mantra-mantra bodoh itu?
Ta. Aku mencintaimu. Mencintai dengan keberanian dan ketakutan-ketakutannya sekaligus. Menyimpanmu di dada kiri dan menggenggamnya di kepalan tangan. Menciptakan dirimu menjadi matahari. Ya, matahari yang hangat namun senyap.
Subscribe to:
Posts (Atom)