Ta, terakhir aku meyapamu adalah malam berhujan ratusan hari lampau. Menggelitik dan kemudian menyapamu dengan bahasa sederhana yang bisu dan sunyi. Bahasa yang selalu menambah arti pada setiap maknanya. Waktu itu kau hanya kamu tersenyum mencoba memahami. Memahami semua gejolak ketelanjanganku yang dibangkitkan kegelapan adalah penyerahan.
Ta, waktu itu aku mungkin terlambat menyadari, kaulah kebaikanku. Hingga ketika paginya aku bangun. Ku temukan diriku tergeletak ditaman yang indah. Kau masih ada disampingku menyadarkan. Aku menyangka aku telah berada di surga. Surga yang menghibur dan memanjakanku dengan tetabuhannya. Hingga akhirnya kudengar kau menghardikku keras, "Pergilah dan basuhlah wajahmu dengan air pancuran itu."
Aku yang mabuk oleh minuman itu, memang terlalu bodoh untuk mengerti. Ketika kubilang kaulah keluasanku, kau hanya tertawa. Ah, keluasan dimana aku bisa melihat pantulan wajah naifku. Mungkin bagimu aku lebih mirip si tua bodoh dari gunung yang bertanya bagaimana rasanya garam. Aku selalu ingin mencoba menyelam pada kedalamanmu, mereguk habis semua kebaikan bunga yang kau sediakan. Disaat yang sama ketika aku melepaskan baju-baju sempitmu, aku pasangkan baju besi yang kaku ditubuhmu.
Aku selalu menikmati diperbincangan-perbincangan kita dalam pertemuan-pertemuan itu, sungguh aku menikmati setiap patah katamu. "Pertemukan aku denganmu!" selalu teriakku. Biarkan aku terbakar oleh nyalamu lalu lenyaplah.
Ta. Aku menunggumu hari ini. Dari hari pagi, menjelang siang hingga malam lepas tanpa kendali dari gengaman tak kudapati sosokmu di tempat biasa. Di halte itu, tempat kita biasa menunggui senja tenggelam, hanya kudapati seonggok mantel lusuh. Bergambar bulan sabit dikantong depannya. Ah, engkau ada dimana Ta?
"Senja-senja kini serasa mengalirkan darah layaknya" bisikmu ketika itu. "Lihatlah perih dan pedih itu. Mereka berebut menempel pada tiang, pada kisi-kisi seperti lintah yang menghisap darah lalu melemahkan kita."
Ta. Hari itu aku tetap menunggumu. Hingga malam datang dan rakus melumat waktu-waktu yang masih tersisa. Aku bertanya pada semua yang ada. Halte, pengemis buta, bulan, bintang dan dan burung yang melintas. Semuanya membisu.
Ta. Hingga menjelang pagi ada nyeri yang menyeruak ketika kakiku melangkah meninggalkan halte bisu itu. Ada apa ini? Apakah kau memang telah bersekutu dengan nasib untuk meninggalkanku? Atau kau telah lelah dengan perjalanan yang tak berujung ini?
Ta. Aku mencarimu. Di sepanjang jalan lurus itu, di belantara lebat itu, di padang itu bahkan nyaris disemua tempat telah kusibak rimbunnya untuk sekedar bisa menyapamu. Menyapa dengan dua tangan yang tertangkup didada. Dan mengajakmu bicara dengan bahasa kesunyian kita.
Ah, selalu hanya sedikit isyarat yang bisa kutangkap darimu. Kau memang telah pergi. Benarkah? Benarkah segala nyanyi sunyi dan bisu tak berarti? Apakah bagimu sekarang teriakan yang kencang menggedor lebih bisa kau pahami? Atau karena aku yang tak pernah sempat mengembangkan cara-cara biasa dan lebih menikmati bahasa purba yang abadi? Ah... aku tak mengerti kau berada dimana kali ini.
Ta. Aku memahamimu. Aku ingin. Sungguh ingin bisa memahami setiap patah kata bahkan setiap tanda baca yang kau kabarkan padaku. Tetapi bukankah itu hanya milikmu? Milik keabadian yang tak pernah tersentuh duniaku.
Sayang, turunlah. Turunlah dan injakkan kakimu di tanah ini. Nikmati setiap gerak dan tiupkan nafas pada pedang-pedang yang telah tercabut dari sarungnya. Ajarkan aku. Ya, ajarkan aku mengayunkan setiap tebasannya menjadi elusan lembut yang menguatkan. Elusan yang meredakan tangis dan menyuapkan harapan.
Aku ingin memahamimu. Seperti aku memahami jantung yang terus berdetak. Seperti nadi yang terus berdenyut. Seperti nafas yang terus berhembus. Seperti itulah ingin kupahami dirimu.
Singgahlah di gubukku sayang. Akan aku suguhkan secawan keringat dan airmata yang selalu menderas bila mengingatmu. Tetapi apakah kau peduli? Bukankah yang kaupedulikan hanya mantra-mantra bodoh itu?
Ta. Aku mencintaimu. Mencintai dengan keberanian dan ketakutan-ketakutannya sekaligus. Menyimpanmu di dada kiri dan menggenggamnya di kepalan tangan. Menciptakan dirimu menjadi matahari. Ya, matahari yang hangat namun senyap.