"Aku adalah orang yang telah menjejalahi kegelapan dan mendaki puncak yang curam, Ketika aku mengangkat sorban dari wajahku, maka kalian akan tahu siapa sebenarnya aku."
Begitu al-Hajjaj ibn Yusuf al-Tsaqafi-tangan kanan Muawiyah- mengawali khutbahnya di masjid agung Kufah dengan mengutip sebuah bait dari seorang penyair kuno. Kemudian ia melanjutkan dengan suara lantang mengingatkan, "Wahai orang-orang Kufah!Aku benar-benar melihat kepala yang sudah siap dipenggal, dan sungguh! Aku adalah orang yang akan melakukannya. Aku juga bisa melihat darah mengalir antara sorban dan janggut.."
Ya, bagi wakil Umayyah yang keras ini, tak ada yang tak bisa ditaklukan atau dibunuh. Bahkan kepala Anas ibn Malik, seorang ahli hadis dan sahabat nabi yang terkemuka, di ikat dengan kalung yang bertuliskan nama al-Hajjaj.
Ketika kemudian menjadi gubernur Irak, diriwayatkan 120 000 orang telah dibunuh untuk menstabilkan kawasan itu bagi dinasti Umayah yang masih goyah. Dengan jejaknya apakah kemudian kita berhak mencapnya sebagai sang penumpah? Bukankah darah yang ditumpahkan al-Hajjaj, bukan yang pertama?
Sebelumnya bahkan, tiga dari empat Khulaf-a al Rasyidun mangkat karena terbunuh. Umar oleh pisau beracun budak Kristen Persia ketika sedang sholat jamaah, Utsman oleh Muhammad anak Abu Bakr, dan Ali oleh pedang beracun yang diayunkan Abd al Rahman ibn Muljam orang Khawarij pada 24 Januari 661 ketika sedang menuju masjid Kufah. Apakah dengan begitu kita lalu berhak mengatakan bahwa agama ini sepanjang sejarahnya hanya diwarnai darah? Hingga Paus Benedictus XVI berhak mengutip sebuah kitab dari akhir abad empat belas dalam pidatonya di Regensburg, Jerman 2005.
"Tunjukan padaku apa yang baru yang dibawakan Muhammad, dan yang kita dapat hanya hal-hal keji dan tak manusiawi." Mestikah itu, justru ketika Paus sebelumnya meresmikan Nostra Aetate pada 28 Oktober 1965? Atau Paus Benedictus XVI memang disemangati oleh Paus Urban II yang direngeki Alexius Comnesus karena pesisirnya di Marmora diserbu Bani Saljuk?
Ya, semua masih ingat 26 November 1095 di Clermont tenggara Perancis. Genderang ditabuh.Deus Vult !! Begitu orang-orang menyambut pidatonya sambil mengepalkan tangannya keudara penuh dendam. Dua tahun berikutnya, musim semi di Konstatinopel 150 000 orang terkumpul menyematkan salib menjadi lencana baju dan berangkat ketimur untuk berperang.
Siapa yang memulainya? Umar dan Heracliuskah yang memulainya di lembah Yarmuk 20 Agustus 636 yang panas? Atau jejak ini tak lebih hanya warisan Troya dan Persia ratusan tahun sebelumnya?
Di Yarmuk kala itu, nyaris semua doa telah dipanjatkan kedua belah pihak. Tuhankah yang menyeret mereka bertukar maut? Atau dia hanya sibuk memunguti doa-doa dari kepala-kepala yang terpenggal? Apakah betul dia memang punya urusan dengan segala pertumpahan darah itu? Betul !! Bukan urusan tuhan, pedang hanyalah urusan saudagar dan para raja ketika tawar-menawar menjadi buntu.
Tetapi bukankah dengan Deus Vult mu, pedang menjadi satu-satunya bahasa? Ya, semua mendapatkan jawabannya dalam pedang. Para romantis dan pejuangmu yang gelisah, termasuk orang-orang yang saleh menjadikan pedang adalah sandaran keimanan mereka, sementara bagi pendosa, pedang akan menunjukan jalannya pada penebusan yang agung. Ya, Yerusalem menjadi magnet bagi perang untuk keadilan. Persetubuhan agama dengan penebusan dosa dan ketakutan akan sorga dan neraka. Terserah dimaknai apa, tetapi apakah memang itu kemauan tuhanmu dan tuhanku? Yang jelas, sejak itu pedang bengkok selalu berdenting beradu dengan pedang lurus dari barat bertaruh maut.
Penindas dan tertindas hanya berganti waktu. Pedang bengkoklah yang dulu mengepung orang-orang Franka, bahkan jauh sampai ke Kordova. Menebarkan ngeri dan ancaman. Dengan jaman yang menyingsing pedang bengkok kemudian terpatahkan. Menarik diri dan mengutuki nasibnya. Ya, tertindas dan penindas hanya berganti waktu.
Benarkan kita masih menuhankan God, Allah Swt, atau apapun itu namanya? Mengapa masih ada orang seperti Mohammed Bouyeri yang penuh dendam. Apa yang mebuatnya mata gelap?
(Aku kirim rangkaian bunga itu untukmu. Di depan Abu Gharib dan Guantanamo kuketuk pintumu. Sekuntum kamboja, melati, dan sekeranjang kecil bunga sepatu terbungkus plastik transparan. Tak lupa kuselipkan sepotong doa yang kuambil begitu saja dari kantong celana. Awalnya aku sempat bimbang sebelum kukirim. Apakah kau suka wanginya? Apakah kau suka warnanya? Apakah kau suka doanya? Pertanyaan bertumpuk-tumpuk dikepalaku dan kupikir kau tak peduli apapun, jadi mengapa aku merisaukan sekadar warna, bau atau bentuknya yang konyol itu.)