Seorang badui arab, mampir di kuil Dzu al Khalashahz meminta restu kepada dewa.Ia, memutuskan hendak menuntut balas terhadap pembunuh ayahnya. Dilepaskanya anak panahnya, mungkin sedang sial semua anak panahnya mengenai kata "terlarang" tiga kali berturut-turut. Sambil melempar panahya yang telah patah ke wajah "dewa"nya, ia mengumpat, "Terkutuklah engkau! Jika ayahmu yang terbunuh kamu pasti tidak melarangku untuk membalas dendam"
Tuhan bagi si badui dalam cerita itu terasa begitu akrab, intim dan bersahabat. Seperti sepasang pengantin, sesekali cemberut, manyun tetapi selebihnya hanyalah pengertian yang mendalam. Ya, mereka begitu akrab dengan tuhannya karena tuhan adalah keseharian mereka.
Bagaimana dengan tuhan kita? Duuuh..tuhan kita telah lama dimonopoli tafsirnya oleh agama. Tuhan nenek moyang kita adalah pohon-pohon dan bebatuan. Berhubung pepohonan banyak ditebang untuk bahan baku pabrik kertas dan bebatuan dibuat candi atau batu akik terpaksa mengimpor tuhan dari India. Tuhannya brahmana dan para kesatria. Cukupkah? Belum. Karena akhirnya kita tahu, selain tuhan-tuhan itu lebih senang berkelahi satu sama lain, ternyata dia lebih asyik berjoged sambil mendesah Kutch Hota Hai dari pada membela umatnya yang sudra.
So, akhirnya seperti kita tahu, kita mesti impor lagi tuhan baru dari gurun arab di pertengahan milenium ini. Wuih... ternyata tuhan ini pun masih suka berantem dan main larang ini-itu.
Udah ah capek, tuhan-tuhan itu bawaannya ribut mulu. Btw omong-omong masih adakah tuhan produk terbaru?
Kubuka dompetku, Anjriiiiiiitttttttt tak kulihat tuhanmu disana.