Monday, April 16, 2007

marah

Aku marah, karena tak berdaya. Aku sedih, karena tak berguna. Aku menangis, lalu berteriak karena tak kuasa. Kau pun tahu. Ketika aku berdiri, aku goyah. Ketika aku duduk, aku tersandar. Ketika aku tertidur, aku lunglai. Aku menjawab takdirku dengan menjemput marah dan menyematkannya menjadi mahkota.
Selalu ada api menjalari dadaku. Pelan dan pasti, hangat berubah menjadi panas yang mendidihkan. Pedih itu, sakit itu, nyeri itu, tak ingin kumengerti lagi rasanya. Aku tak ingin mengigatnya. Seperti Majnun yang terbakar dan mendendangkan nama Laila sepanjang jalannya. Aku ingin membakar kenangannya. Membakarnya menjadi abu yang tak berbekas dan kutiupkan pada badai yang berjanji menjemput.
Aku ingin menjadi Siwa yang merusakan dan lalu membangunkannya kembali untuk manusia-manusia yang bodoh dan tolol itu. Aku tenggelam dalam bara dan ribuan taringku siap kuasah untuk mencabikmu. Membiarkan marahku menjadi penuntun dan pemandu jalanku keluarku. Benar. Ya, benar aku biarkan diriku hanyut dari Siwa menjadi Kala yang rakus.
Kau tahu aku tak berhak apapun. Tak memiliki apapun. Tak berpunya apapun. Aku hanya punya marah, dendam, nyeri dan jutaan darah yang siap menggelegak menghancurkan. Hanya itu. Ya, hanya itu yang kupunya.
Aku simpan bangkai-bangkai peradaban dan kemarahan jaman di kedalamanya. Aku menunggumu dengan mata nyalang. Dengan api, dan pembakarnya sekaligus. Aku ingin hanguskan diriku, hidupku dan entah apalagi yang masih kupunya. Aku lemparkan semua itu pada api yang menyala-nyala. Biar lupa dan tak berbekas.Ya, ingin kulakukan itu padamu.
Aku merunduk di dalam dirimu, menyembah dan menyiapkan dupa untuk persembahan. Atau justru aku dupa itu. Memberi wangi dengan membakar diri.
Aku biarkan diriku mengawang terbang dan menyatu dengan panas matahari. Merasakan indahnya marah yang getir. Getir, karena marah hanyalah jalan keluar yang bisa kumengerti. Sisanya kuserahkan padamu. Kupikir kau memilih membiarkanku menemukan jalan buntu itu. Kau memilih aku lebur menjadi uap dan menikmati tetes-tetesnya yang menjadi hujan. Hujan teramat deras yang juga menjadi Siwa dengan kerusakannya. Kau pikir, tetesku akan menyuburkanmu. Kau salah. Dan aku tak perduli. Sungguh aku tak perduli. Apapun yang kau pikir tentangku.
Aku berhenti berpikir di titik ini. Aku ingin berhenti. Berhenti. Lelah karena marah menguasaiku lagi.
(aku hanya marah dan marah)
Marah pada api dan apa yang diperbuatnya untukku. Siapa yang peduli, siapa yang peduli !!. Tak ada, hanya keberanian yang tolol saja dan mencoba bertahan dari apapun yang belajar mengerti. Aku disini menunggumu, menunggu remah-remah yang tak kumengerti lagi, apa maknanya untuk apa.
tuhan... atau apapun namamu...
Bisakah kau redam gemuruh itu. Bisakah kau alirkan sungaimu menjadi mata air yang indah di hati. Bisakah? Bisakah?
tuhan... atau apapun zatmu..