Wednesday, August 8, 2007

Lawu Baginya...

Pertengahan Juni 2007, bersama KA Solo Bengawan yang menderu kami ke timur. Ya, kami menuju Lawu. Dari ujung barat negeri dia datang, plus wanti-wantinya "Pokoknya harus mendaki"

Akhirnya memang Lawu setelah Rinjani dicoret karena terlalu makan waktu.
Beginilah ceritanya tentang Lawu...

Naik gunung adalah sesuatu yang asyik. Udara yang sejuk, hijaunya pepohonan, kesunyian yang mistis serta keluasan dalam memandang. Pemandangan dikaki bukit tentu berbeda dengan pandangan di puncak bukit. Namun terkadang kita yang berada dikaki gunung sudah merasa puas dengan pemandangan yang dikaki gunung, padahal bila kita mau bersusah sedikit saja, kita akan menemukan pemandangan yang lebih luas lagi dari puncak gunung. Setiap tempat memberikan pemandangan yang berbeda, dan tentu penglihatan dipuncak pasti lebih luas dari yang berada di kaki gunung.

Mendaki gunung bukan saja hanya kegiatan fisik semata. Mendaki gunung lebih dari itu, selain kekuatan fisik juga dibutuhkan kekuatan mental serta keterampilan dalam membaca alam. Bila hanya mengandalkan kekuatan fisik, mungkin kita kalah.

Dan bagiku yang baru pertama kali naik gunung, wuih...capek banget. Apalagi harus bertarung dengan alam yang bila tiba-tiba kurang bersahabat, bisa dibayangkan kelelahannya?

Selain kelelahan fisik, biasanya yang menambah berat adalah kelelahan mental. Kita bisa merasa begitu hopeless saat tidak tahu seberapa jauh kita akan terus mendaki? Apakah bekal kita cukup untuk sampai dan kembali lagi? Ditambah dengan mitos-mitos yang menyeramkan tentang gunung yang akan kita daki. BilaTidak kuat, bisa-bisa sepanjang perjalanan adalah neraka bagi kita.

Ini kisahku, sebagai seorang cewek yang baru pertama mendaki gunung. Aku begitu antusias untuk naik gunung, walau aku tidak pernah berjalan jauh ditambah fisikku yang tidak begitu kuat. Cuek aja lageee....

Setelah mebujuk seorang teman yang biasa naik turun gunung, maka berangkatlah aku bersamanya ke Solo. Dari Solo kami melanjutkan perjalanan menggunakan bus menuju terminal Tawangmangu, terus naik angkot untuk sampai ke Cemoro Kandang. Lalu istirahat sejenak dan segera melapor kepada di Pos Perhutani di base camp dengan membayar karcis tanda masuk sebesar Rp. 3.500/orang. Ada tulisan yang menenangkan disana. Cemoro Kandang- Puncak Lawu hanya 5-6 jam saja.

Pendakianpun dimulai. Mengenakan baju kaos dan celana kain serta sendal jepit(soalnya sepatuku kurang nyaman), aku memulai pendakian itu. Sebentar-sebentar aku istirahat, untunglah temanku ini tipe (he..he.. kayak motor aja pakai tipe-tipean) yang sabar. Dia selalu menunggu aku setiap berhenti untuk mengambil nafas dan menghimpun tenaga kembali. Udara Lawu saat kita masih di Cemoro Kandang sudah dingin, namun atas saran temanku aku tetap menggunakan baju kaos biasa aja, agar saat mendapatkan suhu yang lebih ekstrim sebuah baju hangat akan terasa kegunaannya.

Setapak demi setapak aku lalui, rasanya berat banget. Agak lega saat mencapai post I di ketinggian 2.300 Dpl. Lalu mulai berjalan lagi untuk mencapai pos ke II yang hampir sama jauhnya dari base camp-post pertama, hanya saja ketinggian yang di capai tidak terlalu terjal sehingga perjalanan lebih cepat, walau jaraknya lebih jauh yaitu sekitar 1.5km, lebih panjang 0.3km dibanding base camp dan post pertama yaitu sekitar 1.2km. Setelah itu bagiku mulailah penderitaan itu dimulai.

Post ketiga yang menjadi tujuanku tidak kunjung juga kutemukan, padahal jarak dan waktu yang kutempuh sudah lebih dari jarak dan waktu sewaktu di post I dan post II. Ditambah udara yang semakin dingin dan hari yang semakin gelap. Mulailah hantu-hantu dipikiranku datang. Mulai dari udara yang sudah bertambah dingin, hari yang gelap, lalu jalan yang dimataku terlihat begitu menyeramkan. Bila ada jalur yang sedikit terjal aku mulai ragu untuk melangkah. Dengan bantuan sebuah senter aku juga terus berjalan. Aku harus menemukan post untuk beristirahat. Aku sudah sangat lelah.

Untunglah temanku bisa menenangkanku. Dengan segala filosofinya tentang apa sebenarnya tujuan naik gunung dan menikmati setiap langkah, kelelahan dan semuanya yang kita rasa disaat mendaki gunung. Maka pikiranku mulai beralih kehal-hal tersebut. Didalam keadaan hopeless itu dia mengingatkan, bahwa setiap perjalanan ada akhir. Lelah ini tidak akan selamanya. Bahwa saat akhir (yaitu puncak) itulah akhir pendakian ini, untuk selanjutnya beristirahat dan kita harus kembali menuruni gunung ini.

Ada perkataannya yang menambah semangatku. "Sepertinya post tiga sudah kita lewati deh, karena gelap kita tidak sengaja sudah melewatinya". Hi...hi... asyik..!! Dalam hatiku sedikit terhibur, berarti perjalananku tidak jauh lagi untuk sampai puncak. Karena dari post empat, tinggal satu post lagi untuk sampai ke puncak.Ya...satu post lagi.

Lalu sampailah kami di post tersebut. Lalu temanku berkata "Alhamdulillah, ternyata kita masih di post tiga". Sontak aku berteriak "Anjriiiiiiiiiiiiiiiiiitttt...pokoknya besok kita langsung turun. Nggak usah jalan sampai puncak lagi. Aku nggak kuat. Cukup...cukup...".

Dia hanya tersenyum. Ternyata cerita tentang post tigapun adalah akal-akalannya saja. Dia tahu persis dimana letak setiap post, dia udah puluhan kali naik Lawu. Itu hanya motivasi untukku.

Maka akhirnya kami bermalam di post tiga. Namun penderitaan tidak berakhir disitu saja. Udara yang sangat dingin bikin aku panik, sehingga aku susah bernafas, ditambah lagi suara krasak-krusuk tikus di luar sleeping bag bikin aku tidak bisa tidur dan bawaan ingin pipis terus (mana airnya sedingin air kulkas untuk cebok). Malam menjadi sangat panjang dengan semua penderitaan itu.

Saat melihat mentari pagi, barulah aku bisa melihat secercah harapan, dan bersiap untuk turun gunung. Menuruninya dari post tiga, dia sempat menanyakan apakah aku yakin tidak mau melanjutkan untuk sampai kepuncak?

Dan aku sudah sangat yakin dengan keputusanku itu. Sangat yakin dengan kemampuanku. Bagiku sudah merasakan naik gunung, sedikit mengetahui filosofi yang didapat dari naik gunung dan aplikasi kehidupan sehari-hari sudah cukuplah. Lain kali saat tubuhku fit untuk naik gunung lagi, mungkin aku akan kembali. Kembali menikmati hijaunya pohon, setiap hembusan nafas yang berjuang karena kelelahan, kesunyian yang mistis dari mendaki gunung.

Terimakasih teman...
Terimakasih Lawuku...
Kalian banyak mengajarkan kepadaku tentang kehidupan selama kebersamaan kita disana mulai dari Cemoro Kandang sampai Penggik.

Tuesday, July 24, 2007

Membunuhku?

Kenapa kau ingin membunuhku? Apa salahku, bukankah semua permintaanmu telah aku penuhi. Kau minta upeti, aku memberi. Kau minta cinta, bukankah sepenuh hati telah aku beri, bahkan tanpa kau tahu seringkali aku bawakan kau bunga bersama doa yang terbungkus harap.
Lalu kenapa kau masih berniat membunuhku? Atau karena aku telah menyinggungmu?
Seperti kau tahu, akupun milikmu. Sejak kata "memiliki" kau monopoli, semua sah menjadi milikmu. Seribu tafsir kau buat, sejuta pemahaman kau rumuskan dan semuanya mesti rebah di kakimu. Cinta menjadi ketotalan dan ketololan. Benarkah itu maumu? Atau mungkin aku yang salah menafsir? Haruskah kau tetap membunuhku?

Bermainlah dengan warna sayangku. Nikmati pijarnya dan lupakan penghambaan itu. Ya, lupakan bahasa-bahasa baku yang hanya berisi pujian atau ancaman itu. Duduklah disini, di sisiku dan nikmati tumbuhnya. Perhatikan detailnya, angin yang meniup, aroma melati dan cericit burung. Perhatikanlah, dimana peranmu, jangan-jangan selama ini semua hanya tentang pengakuan. Wah-wah, tuh taringmu keluar lagi kan?

Aku memanggilmu, betul. Aku menciummu, itu juga betul dan ketika seringkali aku menyetubuhimu, itu juga betul. Memanggilmu, menciummu, menyetubuhimu serta menyembahmu dengan caraku, satu-satunya cara yang kutahu. Ya, justru untuk menghindarkan pemberhalaanmu. Apakah dengan itu kau berhak membunuhku? Cintaku memang telah membunuhmu. Panggilanku, walau lirih, pasti menggelikanmu. Membuatmu menggelinjang, tersenyum dan ketika aku ludahi mukamu kau mendendam dan diam-diam merencanakan pembunuhanku.
Ah, kupikir kau terlalu merepotkan diri. Jujur ya, Akulah yang telah membunuhmu. Ya, sejak kau menjadi candu.
(di sebuah TV swata sebuah iklan pembersih lantai melintas. So Klin lantai, So Klin lantai. Tuhannya sudah mati nggak takut lagi)

Tuesday, July 3, 2007

Mimpi-mimpi

Ini cerita tentang diriku sekaran, banyak obsesi yang ingin kucapai. Salah satunya adalah aku ingin seperti engkau. Pernah sekali saat seorang teman bertanya padaku tentang perasaanku padamu, aku hanya menjawab "Hanum (7/1/2007 12:33:28 PM): Aku suka isi otaknya, cinta sama kepedulian sosialnya"

Lain waktu aku memikirkan kedua orang tuaku. Ingin kuwujudkan mimpi-mimpi mereka, membahagiakan mereka dengan membuat diriku bahagia, walau semu. Lain waktu aku berfikir tentang kuliahku, aku sudah jenuh dengan kuliah walau baru terbilang 2 semester dan aku gak menemukan yang kucari disana selain hanya selembar ijazah untuk membuat pangkatku tidak cepat mati di PNS. Belum lagi kerjaanku yang membuat aku eneg, kadang terpikir untuk keluar dari PNS itu, tapi aku belum siap dengan konsekwensinya, aku terlalu pengecut untuk menghadapi hidupku (tanpa penghasilan tetap) dan memperjuangkan keinginanku, jadi kuputuskan untuk bertahan disana dengan segala kekacauannya (yang pasti aku sudah mengacaukan masyarakat yang sudah menggajiku)

Lalu aku kembali teringat akan engkau, yang jauh disana yang akan terikat pernikahan dengan seorang wanita yang luar biasa (menurutku). Sosoknya tidak hanya menginspirasikanmu saja. Dengan ceritamu, aku terinspirasi untuk dapat berbagi untuk sesamaku. Darinya aku belajar untuk tidak egois dengan apa yang aku punya. Kau tahu? Sekarang aku sedikit demi sedikit mengumpulkan uang yang akan kugunakan untuk mereka yang membutuhkan. Gak tahu bagaimana caranya. Paling gak, kalau aku buntu banget, aku bisa kirim kepadamu untuk membantu pembuatan "TK" itu. Aku yakin ditangan orang seperti kalian tak ada yang tidak bermanfaat.

Sekarang pikiranku banyak terkuras dengan keinginan untuk mengisi otakku yang kosong. Serta terus membaca jejak-jejak kehadiran-Nya. Sambil terus membayangkan engkau berada disisiku ikut menapaki jejak itu besama-sama.

Ah...udah ah...
Kau tahu tidak? Alasan itulah kenapa aku ingin menunggumu. Walau aku tahu itu sangat tidak pasti atau bahkan mustahil. Aku tidak ingin membandingkan diriku dan "wanita tangguh" itu. karena takdir sedang tidak berpihak padaku saat itu, kau berjumpa dengannya sebelum berjumpa denganku. Dan untunglah kau berjumpa dengannya. Hehehe...
Aku suka dengan ide "TK" itu. Dan aku anggap takdir sangat baik telah mempertemukan kalian. dan sangat tidak layak untuk digantikan dengan bila takdir mempertemukan aku dan kau duluan.

Ehmmmm....bagaimana dengan kau ya?

aku tunggu persetujuanmu...

Aku tak tahu maksud "mu" dari judul blogmu ini. Tapi biarlah aku sedikit Ge eR mengganggap bahwa blog ini memang disediakan agar aku dapat ngobrol denganmu. Bila kau kurang berkenan, kau dapat mendelete tulisan ini tanpa perlu segan. Dan aku janji tidak akan menanyakan alasan apapun kenapa kau delete tulisan ini.
Sebelum banyak obrolanku denganmu, aku tunggu persetujuanmu.

Tuesday, May 15, 2007

Obrolan Denganmu

Siang padang nggenthang yang panasnya membakar berubah manyun, matahari terkatup dan awan tertelengkup memeluk lutut. Sekelebat cahaya menyambar. "Lep-lep, jlegeeerrrrrrr" begitu bahasa alam menyampaikan pesannya (terjemahan bahasa manusianya=hei..manusia, hujan-hujan, break dulu korupsinya dunk).
"Lep-lep Jleggeerr, lagi"
Nyaris semua mahkluk di bawah fly over langsung meringkuk dalam gigil. Bersicepat berebut berteduh sambil tak lupa mulutnya berkomat-kamit menyodorkan gula-gula, doa dan beberapa potong mantra. Beberapa lainnya memilih pura-pura maklum dan coba untuk mengerti, bahwa sekarang waktu bagi sang 'jagoan' pamer kuasa. Aku- kebetulan masih manusia- tak kalah ngerinya, dalam bayangan otakku yang paling jorok, hujan dan petir seperti kutuk maha kutuk. Kutuk alam yang sebenarnya bisa dimaknai apa saja.
Jaman si manusia gua di Sangiran, hujan dan petir mungkin dimaknai kemurkaan dewa yang meminta jatah 'reman'nya. Si Pitecantropus erektus itu mungkin sangat ketakutan dan langsung menyediakan persembahannya tanpa reserve. Mungkin hewan buruannya, mungkin sebelah jari kakinya dan bukan mustahil persembahannya adalah darah dagingnya. Sesekali memang ajaib, hujan reda. Hei... bahkan ketika dewanya si manusia gua menyediakan dirinya untuk disuap.
Apa makna hujan di jaman kontemporer ini? Dulu hujan adalah butiran air, sekarangpun sepertinya masih. Gajahmada dulu menganggap hujan adalah kemenangan Majapahit, karena dengan hujanlah kapal-kapal perangnya bisa merapat di Trowulan. Mengapa sekarang hujan selalu menjadi mimpi buruk? Apa yang salah Mbah? "Lep-lep Jleggeerr, lagi" jawabnya. Anjriiiit, sedang meminta persembahankah dia? Atau sedang pamer lagi? Atau karena dia tersinggung dan minta disuap oleh manusia?
Aku jadi ingat karibku, dia nyaris menjadi jagoan dalam segala hal. Alkohol ? Oke !! Jajan? Oke. Berjudi ? Wakakak.. (ilmu ini malah di dapat ketika dia sering diam-diam ngabur dari pesantren). Pendeknya ilmu MoLimonya telah katham sekatham dan sefasih dia menafsir kitab.
Selain hal yang bejad-bejad itu, dia punya nilai plus yang luar biasa sebagai modalnya bermasyarakat. Enam tahun SMP-SMAnya habis dipesantren ditambah lima tahun di IAIN membuat memiliki keahlian teknis beragamanya paling jagoan. Membaca, menafsir dan menghapal Al Quran baginya telah seperti darah dan nafas yang menyatu dalam kehidupannya. Keahlian teknis ya? Ya, karena tiap Jum'at siang dia selalu fasih memamerkan keahliannya itu di mesjid depan kompleksnya.
Untuk sebuah mesjid kecil sekali tampil honornya tergolong lumayan, Rp 250 ribu-Rp 300 ribu. Malamnya? Ya hidup berlanjut. Wakakak... kalau begini, siapa membodohi siapa? Tuhan dikemas mejadi nir-wujud sekaligus wujud yang konkrit. Dia bisa menjadi apa saja. Kadang menjadi pisau untuk memotong kue ulang tahun atau alat pembuka tutup botol bir, atau sesekali dijual belikan eceran atau borongan di kaki lima. Ya, bagi temaku tuhan mirip rentenir, hutang satu bayar dua. Dosa lalu tobat. Dan di jamin kelak kapling sorganya tak akan di balik namakan olehNya.
Itu kisah temanku, orang kecil sama kecilnya dengan ku. Tetapi, pagi tadi ketika kubuka koran pagi. Sebuah headline merampok perhatianku. "Amien Rais mengaku menerima dana dari mantan menteri DKP Rohmin Dahuri untuk kampanye PAN dalam Pilpres 2004"
Walah-walah, padahal si Rohmin ini adalah tersangka dalam kasus korupsi dana non budgeter di DKP. Hebat..hebat.. padahal siapa yang tak kenal Amien Rais, bapak 'reformasi', ketua PAN, bekas calon presiden dan bekas boss Muhamadiyah yang sohor itu. Memang saat ini hanya Amien yang ngaku, sementara seperti pengakuan Rokhim di Tipikor nama-nama bekenpun ikut icip-icip duit 'haram jadah itu'.
Gus Dur, Megawati, dan nama-nama lain yang ditunjuk Rokhim memang langsung mengelak dan berargumentasi dari A-Z untuk cuci tangan. Mereka-mereka itu dengan kelihaian serta kepakaran dalam bersilat lidah memilih menjadi munafik besar. Kurang apa pengetahuan mereka tentang tuhan, tentang agama, tentang bernegara, tentang taik kucing, etc..etc... Tuhan, dosa, pahala, amal, ibadah bagi mereja menjadi sangat complicated.
Untuk ini setidaknya aku masih berbangga pada karibku. Dia baru menjadi munafik kecil yang baru belajar berbohong. Kadang bohongnya bolong? Ya, maaf namanya juga baru belajar.

Thursday, April 26, 2007

tuanhantuhan

tuantuhanhantu
tuanhantutuhan
tuhantuanhantu
tuhanhantutuan
hantutuantuhan
hantutuhantuan

Wednesday, April 25, 2007

7.03 PM, 25 April 2007

mencari tuhan..
di....
google ; Results 1 - 10 of about 1,380,000 Indonesian pages for tuhan. (0.02 seconds)
yahoo ; 1 - 10 dari sekitar 1100000 untuk tuhan - 0.20 dtk.
msn ; tuhan Page 1 of 334,875 results
di....
sini ; tok..tok..hello anybody home?
dari dalam sebuah suara menyahut, "lagi pergi mas, besok saja datang lagi.."