Kenapa kau ingin membunuhku? Apa salahku, bukankah semua permintaanmu telah aku penuhi. Kau minta upeti, aku memberi. Kau minta cinta, bukankah sepenuh hati telah aku beri, bahkan tanpa kau tahu seringkali aku bawakan kau bunga bersama doa yang terbungkus harap.
Lalu kenapa kau masih berniat membunuhku? Atau karena aku telah menyinggungmu?
Seperti kau tahu, akupun milikmu. Sejak kata "memiliki" kau monopoli, semua sah menjadi milikmu. Seribu tafsir kau buat, sejuta pemahaman kau rumuskan dan semuanya mesti rebah di kakimu. Cinta menjadi ketotalan dan ketololan. Benarkah itu maumu? Atau mungkin aku yang salah menafsir? Haruskah kau tetap membunuhku?
Bermainlah dengan warna sayangku. Nikmati pijarnya dan lupakan penghambaan itu. Ya, lupakan bahasa-bahasa baku yang hanya berisi pujian atau ancaman itu. Duduklah disini, di sisiku dan nikmati tumbuhnya. Perhatikan detailnya, angin yang meniup, aroma melati dan cericit burung. Perhatikanlah, dimana peranmu, jangan-jangan selama ini semua hanya tentang pengakuan. Wah-wah, tuh taringmu keluar lagi kan?
Aku memanggilmu, betul. Aku menciummu, itu juga betul dan ketika seringkali aku menyetubuhimu, itu juga betul. Memanggilmu, menciummu, menyetubuhimu serta menyembahmu dengan caraku, satu-satunya cara yang kutahu. Ya, justru untuk menghindarkan pemberhalaanmu. Apakah dengan itu kau berhak membunuhku? Cintaku memang telah membunuhmu. Panggilanku, walau lirih, pasti menggelikanmu. Membuatmu menggelinjang, tersenyum dan ketika aku ludahi mukamu kau mendendam dan diam-diam merencanakan pembunuhanku.
Ah, kupikir kau terlalu merepotkan diri. Jujur ya, Akulah yang telah membunuhmu. Ya, sejak kau menjadi candu.
(di sebuah TV swata sebuah iklan pembersih lantai melintas. So Klin lantai, So Klin lantai. Tuhannya sudah mati nggak takut lagi)