Monday, April 9, 2007

Pesan Pendek

Seandainya kau akrab teknologi terkini, rasanya ingin kukirim sebuah pesan pendek padamu. "Hai, aku baik saja. Gimana khabarmu?" Itu mungkin awalan yang cukup sopan untuk menyapamu. Menyapamu dalam keterasinganmu disuatu keentahan.
Seperti biasa, setelah berbasa-basi, aku mungkin langsung kepikiran untuk curhat. Curhat via sms mungkin lebih nyambung, dibanding ribuan kali curhatku dengan sujud dan gumam aneh dalam bahasa yang bahkan bukan bahasa ibuku. Hi.. sorry ya, bukan maksud cengengesan denganmu. Tapi, bukankah gaul juga bagian dari nama indahmu?
Andai kau sedikit saja sadar teknologi. Sesekali aku ingin mengajakmu nonton televisi. Tabung kaca itu sekarang nyaris menggantikan peranmu. Tak percaya ? Lihat saja, bagaimana tabung itu mengatur ini-itu lalu meminta persembahan. Tetapi sudahlah. Tak usah iri, apalagi sirik. Biar saja, mungkin kamu malah bisa belajar dari tabung bodoh itu mendidik umatmu.
Bahkan bila kau berkenan, aku ingin mengajak kau, menikmati tayangan berita atau infotaiment. Berita, setidaknya memberi gambaran apa yang kini sedang terjadi. Bahwa kebanyakan janji-janjimu belasan abad silam sekarang tak lebih menjadi sampah.
Ya, benar sampah. Ayolah jangan egois. Yang terjadi sekarang memang seperti itu toh? Kau memilih mengasingkan diri jauh dari konflik dan terpisah dari keseharian. Kupikir sekarang kau hanya ingin menikmati peranmu sebagai pengadil di Masyar kelak? Benarkah.
Pernah nonton infotaiment dari kursimu? Nggak pernah ya? Tuh kan, bahkan kau nggak tahu kegemaran para manusia-manusia negeri ini. Padahal bisa saja, pesanmu kau tampilkan dalam runing text di tayangan mereka kan? Hal inilah yang aku pikir yang menjadi masalahmu sekarang. Kau selalu bicara dalam bahasa-bahasa yang aneh.
Dalam kondisi sekarang. Mestinya lebih bijak bila kau tampil dengan wajah yang lebih karib dan akrab. Bukan wajah-wajah seram seperti yang digambarkan orang-orang pandai itu. "Apa yang kau inginkan, mintalah." katamu suatu hari. Tidak, aku tidak inginkan apapun darimu, sungguh. Aku hanya ingin melihat kau sesekali turun dari kursimu yang sepi itu. Ayo, rasakan desah kami, rasakan keringat kami atau sesekali rasakan tangis kami.
Aku masih ingat betul ketika kau datangi sahabat kami. Dan meminjam mulut Jibril kau berbisik lembut padanya, "Wahai kau yang berselimut! Bangkit dan berilah peringatan." Ah, masa-masa perkawanan yang indah ya?
Aku juga masih ingat betul. Ketika 300 sahabat itu mengalahkan 1000 lebih pengingkar-pengingkar itu di Badar. Bukankah kau penunjuk jalannya? Dimana kau sekarang? Apakah tabung kaca bodoh itu telah mengalahkanmu atau atau justru "tangan-tangan tak terlihatlah" yang melumatmu.
Argh...Aku juga tetap selalu ingat, ketika dipuncak ketinggiannya, sahabatku tetap memilih tinggal rumah sederhana. Ya, rumah dari tanah liat seperti kebanyakan jaman itu di Yatsrib. Tidak, sekali-kali dia tidak membangun istana. Ia juga sering terlihat menjahit sendiri pakainnya yang robek, dan sangat mudah ditemui oleh para karibnya. Seringkali tangannya mengusap air mata atau mengulurkan kurma dan tinta untuk si papa.
Bandingkan dengan tingakah badut-badut itu sekarang. Badut yang diberi sedikit amanat lalu lupa diri. Mereka bangun tembok istana dan benteng tinggi dari emas atau baja. Lalu membutakan mata dan menulikan telinga dari derita.
Sayang, seandainya kau berteknologi. Ingin rasanya setiap hari kukirim pesan pendek padamu. Apapun yang aku lihat, aku dengar atau aku rasakan akan aku kabarkan dan aku mintakan pendapatmu. Setidaknya aku ingin memberimu progres report perjalananku sebagai khalifah di bumi. Atau kau lebih baik membuka layanan voice mail agar bila kau sibuk kau bisa mendengar pesanku.
Eh, ngomong-ngomong berapa nomor HPmu?